Wednesday, November 16, 2011

Pendekatan dalam Pengambilan Keputusan Etis


A.    Pendahuluan
Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Etis (EDM)
Suatu kerangka multifaset komprehensif untuk pengambilan keputusan etis, itu dirancang untuk meningkatkan penalaran etis dengan menyediakan :
a.       Wawasan ke dalam identifikasi dan analisis isu-isu utama yang perlu dipertimbangkan dan pertanyaan-pertanyaan atau tantangan untuk dibesarkan;
b.      Pendekatan untuk menggabungkan dan menerapkan keputusan-faktor yang relevan ke dalam tindakan praktis.

Kerangka kerja yang EDM menilai etiskalitas dari suatu keputusan atau tindakan dengan memeriksa:
a.       konsekuensi atau diciptakan offness baik dalam hal manfaat atau biaya;
b.      hak dan kewajiban yang terkena dampak;
c.       keadilan yang terlibat;
d.      motivasi atau kebajikan yang diharapkan.

B.   Analisis Biaya Manfaat
Analisis efektivitas biaya membandingkan cara-cara yang berbeda untuk mencapai  tujuan yang sama guna mendapatkan cara yang paling murah untuk mencapainya. Analisis  biaya manfaat mencari nilai dan membandingkan semua biaya dan manfaat, baik pada  kelompok perorangan dan sosial, sebagai akibat intervensi alternatif dan mengkonversikannya ke jumlah uang. Misalnya, dengan analisis biaya manfaat, anda dapat menghitung manfaat yang diterima program anda untuk tiap rupiah yang dikeluarkan.

Analisis biaya manfaat merupakan metodologi yang banyak digunakan dalam  melakukan analisis investasi. Metode ini dapat membantu para pengambil keputusan dalam  menentukan pilihan diantara alternatif alokasi sumber-sumber daya yang terbatas tetapi  memberikan keuntungan yang tinggi.
Sementara analisis penetapan biaya berguna bagi manajemen dan perencanaan, tetapi terdapat juga batasan-batasan:
a.    Keputusan tidak sepenuhnya didasari oleh pertimbangan ekonomi. Pertimbangan-pertimbangan politis, teknis, administratif dan logistik seringkali lebih berpengaruh pada  pilihan akhir sebuah strategi;
b.    Analisis efektivitas biaya;
c.    Intervensi seringkali berakibat pada hasil kesehatan positif lainnya;
d.   Tidak mungkin mengkuantifikasi manfaat yang tak nyata.

C.  Analisis Etis Untuk Pemecahan Masalah
Kebanyakan para pelaku bisnis mengambil keputusan berdasarkan kepentingan para pemilik atau para pemegang saham,pandangan ini merupakan pendekatan secara tradisional.Pendekatan secara tradisional ini dimodifikasi menjadi dua cara, pertama asumsi bahwa seluruh shareholder hanya ingin memaksimalkan keuntungan jangka pendek, kedua:hak dan kewajiban dari beberapa kelompok non shareholder seperti karyawan, konsumen atau klien, supplier, kreditor, tokoh masyarakat dan pemerintah memiliki kepentingan dari hasil keputusan yang dibuat dan juga tujuan dari perusahaan itu ikut dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Perusahaan yang modern saat ini sangat memperhitungkan kelompok Shareholder dan kelompok diluar Shareholder, kedua kelompok tersebut menjadi pembentuk dari sebuah stakeholder yang menjadi Company Respond. Jika kehilangan salah satu unsur stakeholder atau biasa disebut primary stakeholder. Hal tersebut dapat menyebabkan perusahaan tidak dapat berpotensi secara penuh. dan mungkin dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan.
Asumsi bahwa kelompok shareholder monolitik hanya tertarik pada keuntungan jangka panjang yang sedang mengalami modifikasi, disebabkan karena perusahaan yang modern mencari shareholders yang terdiri dari perorangan maupun institusi yang tertarik pada keuntungan jangka panjang dan bagaimana etika bisnis diterapkan.
Investor yang etis mengembangkan jaringan formal dan informal melalui kegiatan perusahaan mereka, mereka juga memutuskan bagaimana untuk memilih wakil-wakil mereka, serta bagaimana pendekatan ke direktur agar mereka memperhatikan dan tetap pada ruang lingkup atas perlindungan terhadap lingkungan. Mereka juga memberikan kompensasi dan nilai lebih terhadap kegiatan HAM pada suatu negara tertentu seperti Afrika Selatan.

Kepentingan yang fundamental dari stakeholder
Para decision maker menggabungkan kepentingan kelompok stakeholder dan menciptakaan tiga kepentingan yang mendasar, yaitu:
a.       Dapat menghasilkan keputusan yang dapat mengakomodir kepentingan mereka
b.      Suatu keputusan sebaiknya mempertimbangkan pendistribusian yang adil antara keuntungan dan beban.

Suatu keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak-hak Stakeholder, termasuk hak dalam membuat keputusan
a.       Well-offnes            : Keputusan sebaiknya menghasilkan lebih banyak keuntungan
daripada Biaya;
b.      Fairness                : Pendistribusian hendaknya mempertimbangkan keseimbangan
antara keuntungan dan biaya;
c.       Right                     : Hasil keputusan hendaknya tidak bertentangan dengan hak
Stakeholder.

Pengukuran pengaruh yang dapat dikuantifisir
Keuntungan adalah kepentingan utama yang ingin didapat oleh para pemegang saham dan merupakan hal yang penting untuk mencerminkan ketahanan dan kesehatan suatu perusahaan. Pada waktu inflasi, keuntungan dapat merubah inventory di harga yang lebih tinggi.

Pengkajian terhadap pengaruh yang tidak dapat dikuantifisir
Keadilan bukan merupakan konsep yang absolut. hal ini merupakan petunjuk yang berasal dari suatu kejadian ekonomi yang berorientasi dalam mencari keuntungan dan biaya yang menjadi dasar dari keputusan tersebut. contohnya adalah keputusan untuk menaikan pajak lebih tinggi pada pendapatan tinggi, tetapi melihat secara adil sesuai dengan kapasitas mereka untuk membayar pajak. alasan dan perspektif diperlukan untuk menilai kewajaran dengan teliti.
Kebanyakan para pelaku bisnis mengambil keputusan berdasarkan kepentingan para pemilik atau para pemegang saham, pandangan ini merupakan pendekatan secara tradisional. Pendekatan secara tradisional ini dimodifikasi menjadi dua cara, pertama asumsi bahwa  seluruh shareholder hanya ingin memaksimalkan keuntungan jangka pendek. Kedua, hak dan kewajiban dari beberapa kelompok non shareholder seperti karyawan, konsumen atau klien,  supplier, kreditor, tokoh masyarakat dan pemerintah memiliki kepentingan dari hasil keputusan yang dibuat dan juga tujuan dari perusahaan itu ikut dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Perusahaan yang modern saat ini sangat memperhitungkan kelompok Shareholder dan kelompok diluar Shareholder, kedua kelompok tersebut menjadi pembentuk dari sebuah stakeholder yang menjadi Company Respond. Jika kehilangan salah satu unsur stakeholder atau biasa disebut primary stakeholder. Hal tersebut dapat menyebabkan perusahaan tidak dapat berpotensi secara penuh. dan mungkin dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan.



DAFTAR PUSTAKA


Sumber gambar : google pict


Read More..

Tata Kelola Etis dan Akuntabilitas


A.    Latar Belakang Munculnya Good Corporate Governance
Good Corporate Governance atau dikenal dengan nama Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (selanjutnya disebut “GCG”) muncul tidak semata-mata karena adanya kesadaran akan pentingnya konsep GCG namun dilatar belakangi oleh maraknya skandal perusahaan yang menimpa perusahaan-perusahaan besar. Joel Balkan (2002) mengatakan bahwa perusahaan (korporasi) saat ini telah berkembang dari sesuatu yang relative tidak jelas menjadi institusi ekonomi dunia yang amat dominan. Kekuatan tersebut terkadang mampu mendikte hingga ke dalam pemerintahan suatu negara, sehingga mejadi tidak berdaya dalam menghadapi  penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh para pelaku bisnis yang  berpengaruh tersebut. Semua itu terjadi karena perilaku tidak etis dan bahkan cenderung kriminal-yang dilakukan oleh para pelaku bisnis yang memang dimungkinkan karena kekuatan mereka yang sangat besar disatu sisi, dan ketidakberdayaan aparat pemerintah dalam menegakkan hukum dan pengawasan atas perilaku para pelaku bisnis tersebut; disamping berbagai praktik tata kelola perusahaan dan pemerintahan yang buruk.

Salah satu dampak signifikan yang terjadi adalah krisis ekonomi di suatu negara, dan timbulnya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Sebagai akibat adanya tata kelola perusahaan yang buruk oleh perusahan-perusahaan besar yangmana mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi dan krisis kepercayaan para investor, seperti yang terjadi di Amerika pada awal tahun 2000 dan tahun 2008 yang mengakibatkan runtuhnya beberapa perusahan besar dan ternama dunia; disamping juga menyebabkan krisis global dibeberapa belahan negara dunia. Sebagai contoh, untuk mengatasi krisis tersebut, pemerintah amerika mengeluarkan Sarbanes-Oxley Act tahun 2002; undang-undang dimaksud berisikan penataan kembali akuntansi perusahaan publik, tata kelola perusahaan dan perlindungan terhadap investor. Oleh karena itu, undang-undang ini menjadi acuan awal dalam penjabaran dan penciptaan GCG di berbagai negara.

Konsep GCG belakangan ini makin mendapat perhatian masyarakat dikarenakan GCG memperjelas dan mempertegas mekanisme hubungan antar para pemangku kepentingan di dalam suatu organisasi yang mencakup :
a.       hak-hak para pemegang saham (shareholders) dan perlindungannya,
b.      peran para karyawan dan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) lainnya,
c.       pengungkapan (disclosure) yang akurat dan tepat waktu,
d.      transparansi terkait dengan struktur dan  operasi perusahaan,
e.       tanggungjawab dewan komisaris dan direksi terhadap perusahaan itu sendiri, kepada para pemegang saham dan pihak lain yang berkepentingan.

B.     Pengertian GCG
Pada awalnya, istilah “Corporate Governance” pertama kali dikenalkan oleh Cadbury Committee di Inggris tahun 1922 yang menggunakan istilah dimaksud dalam laporannya yang dikenal dengan Cadbury Report (dalam sukrisno Agoes, 2006). Berikut disajikan beberapa definisi “Corporate Governance” dari beberapa sumber, diantaranya:
1.      Cadbury Committee of United Kingdom
A set of rules that define the relationship between shareholders, managers, creditors, the goverment, employees, and other internal and external stakeholders in respect to their right and responsibilities, or the system by which companies are directed and controlled.
2.      Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI-2006)
FCGI tidak membuat definisi sendiri, namun mengadopsi definisi Cadbury Committee of United Kingdom dan menerjemahkan “Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antar pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan”.

3.      Sukrisno Agoes (2006)
Tata kelola perusahaan yang baik sebagai suatu sistem yang mengatur hubungan peran dewan komisaris, para direksi, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya. Tata kelola perusahaan yang baik juga disebut sebagai suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaiannya, dan penilaian kinerjanya.
4.      Organization for Economics Cooperation and Development (OECD) (dalam Tjager dkk, 2004)
The structure through which shareholders, directors, managers, set of the board objectives of the company, the means of attaining those objectives and monitoring performance. [Suatu struktur yang terdiri atas para pemegang saham, direktur, manager, seperangkat tujuan yang ingin dicapai perusahaan, dan alat-alat yang akan digunakan dalam mencapai tujuan dan memantau kinerja]
5.      Wahyudi Prakarsa (dalam Sukrisno Agoes, 2006)
Mekanisme adninistratif yang mengatur hubungan-hubungan antara  manajemen perusahaan, komisaris, direksi, pemegang saham, dan kelompok-kelompok kepentingan (stakeholders) yang lain. Hubungan-hubungan ini dimanifestasikan dalam bentuk berbagai aturan (prosedur) dan sistem insentif sebagai kerangka kerja (framework) yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, serta pemantauan atas kinerja yang dihasilkan.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, pada intinya konsep GCG mengandung pengertian yang berintikan 4 point, yaitu:
1.      Wadah
Organisasi (perusahaan, sosial, pemerintahan).
2.      Model
Suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan, termasuk prinsip-prinsip, serta nilai-nilai yang meladasi praktik bisnis yang sehat.
3.      Tujuan
a.       Meningkatkan kinerja organisasi,
b.      Menciptakan nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan,
c.      Mencegah dan mengurangi manipulasi serta kesalahan yang signifikan dalam pengelolaan  organisasi,
d.      Meningkatkan upaya agar para pemangku kepentingan tidak dirugikan.
4.      Mekanisme
Mengatur dan mempertegas kembali hubungan, peran, wewenang, dan  tanggungjawab:
a.       Dalam arti sempit        : antar pemilik atau pemegang saham, dewan komisaris
  dan direksi.
b.      Dalam arti luas            : antar seluruh pemangku kepentingan.

C.    Prinsip-Prinsip Dasar Yang Melandasi Konsep GCG
Good Corporate Governance merupakan gabungan prinsip-prinsip dasar dalam membangun suatu tatanan etika kerja dan kerjasama agar tercapai rasa kebersamaan, keadilan, optimasi dan harmonisasi hubungan sehingga dapat menuju kepada tingkat perkembangan yang penuh dalam suatu organisasi atau badan usaha.

Prinsip-prinsip dasar tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
1.      Vision
Pengembangan suatu organisasi atau badan usaha harus didasarkan pada adanya visi & strategi yang jelas dan didukung oleh adanya partisipasi dari seluruh anggota dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan dan pengembangan supaya semua pihak akan merasa  memiliki dan tanggungjawab dalam kemajuan organisasi atau usahanya.
2.      Participation
Dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan hasil keputusan suatu organisasi atau badan usaha sedapat-dapatnya melibatkan pihak-pihak terkait dan relevan melalui sistem yang terbuka dan dengan jaminan adanya hak berasosiasi dan penyampaian pendapat.
3.      Equality
Suatu badan usaha atau organisasi yang baik selalu akan member dan menyediakan peluang yang sama bagi semua anggota atau pihak terkait bagi peningkatan kesejahteraan melalui usaha bersama di dalam etika usaha yang baik.
4.      Professional
Dalam bahasa sehari-hari professional diartikan “One who engaged in a learned vocation (Seseorang yang terikat dalam suatu lapangan pekerjaan)”. Dalam konteks ini professional lebih dikaitkan dengan peningkatan kapasitas kompetensi dan juga moral sehingga pelayanan dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan akurat.
5.      Supervision
Meningkatkan usaha-usaha supervisi terhadap semua aktivitas usaha atau organisasi sehingga tujuan bersama dapat dicapai secara optimal, efektif dan efisien, serta untuk meminimalkan potensi kesalahan atau penyimpangan yang mungkin timbul.
6.      Effective & Efficient
Effective berarti “do the things right”, lebih berorientasi pada hasil, sedangkan efficient berarti “do the right things”, lebih berorientasi pada proses. Apapun yang direncanakan dan dijalankan oleh suatu organisasi atau badan usaha harus bersifat efektif dan efisien.
7.      Transparent
Dalam konteks good governance, transparency lebih diartikan membangun kepercayaan yang saling menguntungkan antara pemerintah atau pengelola dengan masyarakat atau anggotanya melalui ketersediaan informasi yang mudah diakses, lengkap dan up to date.
8.      Accountability/Accountable
Dalam konteks pembicaraan ini accountability lebih difokuskan dalam  meningkatkan tanggungjawab dari pembuat keputusan yang lebih diarahkan dalam menjawab kepentingan publik atau anggota.
9.      Fairness
Dalam konteks good governance maka fairness lebih diartikan sebagai aturan hukum harus ditegakan secara adil dan tidak memihak bagi apapun, untuk siapapun dan oleh pihak manapun.
10.  Honest
Policy, strategi, program, aktivitas dan pelaporan suatu organisasi atau badan usaha harus dapat dijalankan secara jujur. Segala jenis ketidak-jujuran pada akhirnya akan selalu terbongkar dan merusak tatanan usaha dan kemitraan yang telah dan sedang dibangun. Tanpa kejujuran mustahil dapat dibangun trust dan long term partnership.
11.  Responsibility & Social Responsibility
Institusi dan proses pelayanan bagi kepentingan semua pihak terkait harus dijalankan dalam kerangka waktu yang jelas dan sistematis. Sebagai warga suatu organisasi, badan usaha dan/atau masyarakat, semua pihak terkait mempunyai tanggungjawab masing-masing dalam menjalankan tugasnya dan juga harus memberi pertanggungjawaban kepada publik, sehingga di dalam suatu tatanan atau komunitas dapat terjadi saling mempercayai, membantu, membangun dan mengingatkan agar terjalin hubungan yang harmonis dan sinergis.

Sedangkan lebih sempit lagi, menurut OECD, prinsip dasar GCG yang dikembangkan adalah :
a.       perlakuan yang setara antar pemangku kepentingan (fairness),
b.      transparansi,
c.       akuntabilitas, dan
d.      responsibilitas

Disamping itu, dalam kaitannya dengan tata kelola BUMN, Menteri Negara BUMN juga mengeluarkan keputusan KEP-117/M-MBU/2002 tentang prinsip GCG, diantaranya:
1.      Kewajaran
Prinsip agar para pegelola memperlakukan pemangku kepentingan secara  adil dan setara, baik pemangku kepentingan primer (pemasok, pelanggan, karyawan, dan pemodal) maupun sekunder (pemerintah, masyarakat, dan pihak lain). Prinsip inilah yang memunculkan konsep pengedepanan kepentingan atas stakeholders dan bukan hanya shareholders.
2.      Transparansi
Kewajiban bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan dalam proses keputusan dan penyampaian informasi. Lebih dalam bahwa, informasi yang disampaikan harus lengkap, benar, dan tepat waktu kepada semua pemangku kepentingan, tidak boleh ada hal-hal tertentu yang dirahasiakan, disembunyikan, ditutup-tutupi, maupun ditunda-tunda pengungkapannya.
3.      Akuntabilitas
Kewajiban bagi para pengelola untuk membina sistem akuntansi yang efektif untuk menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya (reliable) dan berkualitas.
4.      Responsibilitas
Kewajiban para pengelola untuk memberikan pertanggungjawaban atas semua tindakan dalam pengelolaan perusahaan kepada para pemangku kepentingan sebagai wujud kepercayaan dan wewenang yang telah  diberikan.
Pertanggungjawaban ini setidaknya mencakup dimensi :
a.       Ekonomi          : diwujudkan dalam bentuk pemberian keuntungan ekonomis  
  bagi pemangku kepentingan,
b.      Hukum            : diwujudkan dalam bentuk kepatuhan terhadap hukum dan
  peraturan-peraturan yang berlaku ,
c.  Moral              : diwujudkan dalam bentuk pertanggungjawaban tersebut dapat   dirasakan secara menyeluruh dan adil bagi semua pemangku kepentingan,
d.      Sosial             : diwujudkan dalam bentuk Corporate Social Responsibility
(CSR) sebagai wujud kepedulian terhadap kesejahteraan    
   masyarakat dan kelestarian alam di lingkungan perusahaan,
e.       Spiritual           : diwujudkan dalam bentuk sejauh mana tindakan manajemen
telah mampu mewujudkan aktualisasi diri atau telah dirasakan 
sebagai bagian dari ibadah sesuai dengan ajaran agama yang
diyakininya.

5.      Kemandirian
Suatu keadaan dimana para pengelola dalam mengambil suatu keputusan bersifat profesional, mandiri, bebas dari konflik kepentingan, bebas dari tekanan serta pengaruh dari pihak manapun yang bertentangan dengan perundangan yang berlaku dan prinsip pengelolaan yang sehat.
Kebutuhan tata kelola etis tidak hanya baik bagi bisnis perusahaan. Perubahan-perubahan terkini pada regulasi pemerintahan merubah ekspektasi secara signifikan. Dalam era meningkatkan pengawasan, dimana perilaku tidak etis dapat mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan, sangat dibutuhkan sistem tata kelola perusahaan yang menyediakan aturan serta akuntabilitas yang tepat untuk kepentingan shareholders, direktur, dan eksekutif.
Direktur harus cermat dalam mengatur risiko bisnis dan etika perusahaannya. Mereka harus memastikan bahwa budaya etis telah berjalan dengan efektif dalam perusahaan. Hal ini membutuhkan pengembangan code of conduct, dan cara yang paling fundamental dalam menciptakan pemahaman mengenai perilaku yang tepat, memperkuat perilaku tersebut, dan meyakinkan bahwa nilai yang mendasarinya dilekatkan pada strategi dan operasi perusahaan. Konflik kepentingan dalam perusahaan, kekerasan seksual, dan topik–topik serupa perlu diatasi segera dengan pengawasan yang memadai untuk menjaga agar budaya perusahaan sejalan dengan ekspektasi saat ini.
Peristiwa Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom mengubah fokus akuntan profesional terhadap perannya sebagai orang yang dipercaya oleh publik. Reputasi dan eksistensi profesi akuntan di masa depan telah menurun di mata publik, sehingga perbaikan serta kesuksesannya kembali tergantung pada perubahan yang akan dilakukan.
Profesi akuntan harus mengembangkan pertimbangan, nilai, dan sifat karakter yang mencakup kepentingan publik, dimana pertimbangan tersebut inheren dengan munculnya akuntabilitas berorientasi stakeholder dan kerangka tata kelola (governance framework). Standar code of conduct yang baru muncul untuk menuntun profesi akuntan serta memastikan bahwa self-interest, bias, dan kesalahpahaman tidak menutupi independensinya.
Globalisasi mulai mempengaruhi perkembangan aturan dan harmonisasi standar akuntan profesional, dan hal ini akan terus berkelanjutan. Sama seperti mekanisme tata kelola untuk korporasi yang menghasilkan batasan dan yurisdiksi domestik, stakeholders di seluruh dunia akan lebih mengutamakan dalam menentukan standar kinerja bagi profesi akuntan. Pekerjaan mereka akan melayani pasar modal dan korporasi global, dan kesuksesannya membutuhkan respek dari karyawan dan partner yang lebih banyak dibandingkan dahulu. Dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki, akan menarik apabila akuntan profesional dapat menggunakan kesempatan yang menunjukkan perannya yang lebih luas. Mereka secara khusus harus menempatkan dirivuntuk membantu perkembangan mekanisme ke depan yang menyediakan dan memastikan panduan etika yang lebih baik bagi organisasi.




Read More..

Monday, November 14, 2011

Tips Agar Tangan Tidak Panas Lagi Ketika Selesai Membersihkan atau Memotong Cabe


Assalamu'alaikum sobat maya... apa kabarnyaa kaliann ?? semoga selalu senantiasa dalam Lindungan-Nya..amien..

Heummm,,, sobat mayaa... kali ini tips nya berbicara seputar si merah yang membuat masakan selalu ceria dan berwarna dengan kehadirannya...hehe.. yupp.. si cabe ini memang bahan dapur yang terkadang membuat masalah ketika kita selesai membersihkannya...ckckck... Biasanya sihh tangann kita akan terasa sangat panas luar biasa, bila cabe yang dibersihkan dalam jumlah yang banyak yahh sobatt...ckckck...

Nahh sesuai pengalaman pribadiku sobat,, agar tangan kita tidak panas ketika selesai membersihkan cabe ada tips khusus nihh,, check it out :


Pertama-tama sediakan kelapa parut terlebih dahulu yaa sobat (**kelapanya yang pas abis diparut yang dipakai ya sobat bukan ampasnya yang selesai di peras santannya),, nahh,, selanjutnya oleskan kelapa parut ditangan kita barulah kita mulai membersihkan cabe (**mengoleskannya di ulangi lagi ketika membersihkan cabe yang selanjutnya lagi yaa sobat...) Selamat mencoba,, semoga bermanfaat...^_^



(** Sumber gambar : google pict )

Read More..

From VLP To Friends

Blog Indonesia

blog-indonesia.com

VLP Chats

Hitstats

Indonesia Blogger

Blogger Indo