Friday, September 28, 2012

Yang Pertama dan Yang Terakhir







Suster itu tergesa “Dok, ada lagi korban tabrak lari di UGD, ini yang ke tiga

Segera hubungi dokter haris” Jawab dokter berusia 30 tahun tersebut

Baik dok

***
14 tahun yang lalu…

Sepulang sekolah alif membantu ibunya merapikan barang dagangan yang biasa dijajakan dari pintu ke pintu --panci-panci bersusun, wajan, mangkok, cangkir juga beberapa lembar sarung.

Seraya merapikan Alif menatap wajah ibunya. Lekat. Keletian benar-benar tergurat jelas di wajah wanita yang umurnya terbilang masih muda namun beban hidupnya tak mudah. Wanita yang sedang ia temani merapikan barang itu harusnya sekarang berbahagia dengan lelaki yang meminangnya 17 tahun yang lalu. Namun takdir berkata lain.

Sejak ayah alif berangkat ke negeri seberang, menjadi TKI illegal1) ibunya mulai menghadapi masa-masa sulit menangani hidup sendirian. Bagaimana tidak, di tengah kehidupan ibu kota yang kejam, wanita yang baru saja menginjakkan kaki di usia 17 tahun itu harus merawat anak lelakinya yang juga baru beberapa bulan mengenal dunia.

Masa-masa awal di negeri seberang, ayah alif masih mengirim kabar melalui surat juga terkadang menyelipkan beberapa lembar puluhan ribu, namun itu hanya terjadi selama 6 bulan, bulan-bulan berikutnya, lelaki itu menghilang tanpa kabar dan jejak.

Itulah sebabnya alif bertekad untuk merubah keadaan mereka 180º di masa depan. Mimpi, usaha,  dan berdo’a.

Alif belajar dengan baik, tidak pernah bolos dan nakal apalagi keluyuran tidak jelas seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak seusianya.  Dari SD hingga duduk di bangku SMA, nilai-nilai alif jauh melenggang di atas nilai rata-rata teman sekelasnya, itu pula-lah yang mengantarkan alif tak pernah lepas dari peringkat tiga besar.

Lif, besok jangan lupa bilang sama bu Laura, Insya Allah ibu akan bayar uang sekolahmu minggu depan, istrinya pak adrian yang punya wartel itu tadi beli panci yang seperti ini dua set, baru ngasih panjar, minggu depan bayar lunas” Ujar wanita berkerudung hitam itu antusias di tengah suara plastik yang gemerisik

Alif yang tengah menyusun mangkok tersenyum “Alhamdulillaah, alif senang sekali mendengarnya bu, mmmhh, coba ibu izinin alif bantu menjajakan, mungkin akan lebih banyak yang laku

Ibu alif menyeringai “Hussh,,, kita harus bersyukur atas pemberian Allah, sedikit atau banyak tidak masalah, yang penting berkah dan halal” sejenak wanita itu mengambil nafas “lagian membantu ibu bukan berarti alif harus ikut menjajakan, belajar yang baik dan jadi anak sholeh, itu sudah lebih dari cukup, janji ya nak?” tukasnya tuntas penuh harap

Alif bangkit memeluk “Iya bu, alif janji akan jadi anak yang baik dan sholeh, alif sayang ibu”

Ibu alif balas memeluk, gurat letihnya perlahan pudar dengan kasih dari talian darahnya.

***
Alif, batas waktu kamu seminggu lagi” ujar wanita berperawakan indo tersebut

Alif memperbaiki posisi duduknya “Alif tahu bu, tapiii…

Tapi apa lif ? ingat, ibu tidak bisa membantu banyak, apapun keputusan kepala yayasan ibu akan menaati” kali ini wanita itu menatap iba

Iya bu, alif akan usahakan dalam seminggu terakhir” Alif menunduk pelan lalu melangkah  penuh kecemasan “mungkin ini terakhir kalinya saya menginjak ruang guru ini” batinnya lirih.
Dua minggu terakhir Khaifah, ibu alif, terbaring sakit. Alhasil, uang SPP alif yang terkumpul, digunakan dan habis seketika. Awalnya ibu alif tak mau ke dokter, namun alif bersikukuh membujuk “kesehatan ibu jauh lebih penting”, walaupun konsekuensinya sangat berat, jika tak membayar uang sekolah dalam bulan ini, ia akan dikeluarkan.
Malam yang sedari tadi beranjak tak menghentikan Alif memegang dan menatap secarik kertas yang di sodorkan pak bakri sebelum pulang sekolah tadi, ia hanya mondar-mandir, gelisah.

Lelaki paruh baya yang tak lain adalah satpam sekolahnya itu bercerita tentang sosok yang ia temui saat menghadiri acara hajatan di rumah saudaranya, seminggu yang lalu. “Lif, ayahmu sendiri yang memberikan nomor itu, katanya kalau kamu ada keperluan telpon saja dia

Kini, dua kubu hati bertentangan, di satu sisi ingin menelpon untuk memberitahukan keadaannya sekarang, sementara di sisi lain tak mau menyakiti hati ibunya. Setelah lama berperang dengan batinnya sendiri, Alif bergegas. Wartel di ujung jalan menjadi tujuan.

Assalaamu’alaikum,, bisa bicara dengan ayah ?
Ini siapa?
A….a…lif,,
Mau ngapain kamu nelpon kemari, mau minta uang ? tidak ada
Klik, telpon terputus

Alif menelan ludah, ia memutuskan untuk menunggu. Berharap bukan wanita itu lagi yang mengangkat telponnya “ternyata ibu tiri itu memang kejam” lirih batinnya. Selang belasan menit kemudian, alif kembali menekan nomor yang tertera di secarik kertas tersebut.

Assalaamu’alaikum, a…a..yah
Wa’alaikumussalam,, alif kamu nak ?
Iya yah, ini alif
Alhamdulillaah, akhirnya kamu menelpon ayah juga, kamu baik-baik saja kan nak ?

Alif tercekat, ingin menjawab lugas namun dihadapannya kini muncul bayang-bayang wajah pejuang hidupnya yang penuh air mata. Pejuang yang benar-benar memperjuangkannya hingga berumur belasan tahun seperti sekarang, pejuang yang menjadi sosok pertama yang selalu ada buat-nya. Sedang di seberang sana adalah sosok seseorang yang telah tega meninggalkan pejuang hidupnya sendirian, dan harusnya sosok itu berada di urutan terakhir dalam hidupnya. Kegelisahan pun kembali menyelimuti remaja 16 tahun tersebut.

Di tengah keadaan yang dilematis, Alif bertindak cepat, menutup telpon dengan sigap. Meski dari seberang sana masih sibuk bertanya “Lif,, alif ? kamu masih di sana kan nak ? Alif? Alif??

Dengan mata berkaca-kaca Alif menatap kaca wartel “Perasaan ibu jauh lebih penting dan mungkin memang takdir mengharuskanku berhenti bermimpi” Lirihnya pedih.

***
Suster itu tergesa “Dok, ada lagi korban tabrak lari di UGD, ini yang ke tiga

Segera hubungi dokter haris” Jawab dokter berusia 30 tahun tersebut

Baik dok” dengan lincah suster itu berlari ke ruang administrasi dan berselang menit kemudian suster itu kembali tergesa “Dok, ponsel dokter haris tidak aktif

Ya sudah, tidak apa-apa, biar saya saja yang menangani semuanya” dokter berusia 30 tahun itu berjalan cepat menuju ruang yang di maksudkan, namun masih beberapa meter jarak ke ruang yang di tuju ponselnya bergetar,

Dari ibuku tersayang

Nak,, Pak Adrian dan istrinya datang, sempatkan makan siang di rumah.

Usai membaca pesan, Alif hanya melayangkan anggukan depan layar kecil tersebut, Ia kembali melanjutkan langkahnya.

Pak Adrian merupakan pahlawan yang dikirimkan Allah dalam hidup alif, sejak alif terlihat berkaca-kaca di bilik wartelnya, ia tahu bahwa anak ini tengah penuh duka. Ia pun menawarkan alif untuk menjaga wartel setiap pulang sekolah dengan gaji yang lebih dari cukup. Sebenarnya bukan hanya gaji, ditambah dengan sedekah. Uang sekolah-pun terbayar. Dan tak lama berselang sejak kejadian itu, tepatnya dua bulan kemudian, pak Adrian naik pangkat, ia dipindah tugaskan ke luar negeri, dan sebelum beliau berangkat, tanah, wartel juga seisinya ia hibah2)-kan ke alif.

Sesaat setelah sampai di UGD. Alif terperanjat, ia seperti mengenal dekat sosok yang terbaring di sana. Ya, wajah sosok itu persis sama dengan wajah pada foto yang kini berada di balik lipatan pakaiannya —foto yang alif temukan di balik bantal ibunya sewaktu  ibunya sakit berminggu-minggu. Bedanya saat itu wajah lelaki tersebut tersenyum di samping ibunya yang memakai kebaya, dan saat ini wajah lelaki itu telah bersimbah darah. Alif bergegas mengelap darah yang ada. Dalam guratan wajah yang tampak jelas dihadapannya, bayang-bayang ibunya membuncah, alif memeluk erat seraya lirih berucap “bu, maafkan alif, kali ini alif memeluk seseorang yang telah menyakitimu, meskipun dia bukan yang pertama di hati alif, namun alif berharap pertemuan ini tak menjadi yang terakhir”.


Keterangan :
1)      Illegal              : Tidak resmi.
2)      Hibah              : Pemberian secara sukarela dari pemberi kepada penerimaan yang
  dibuat atas dasar kasih sayang tanpa menerima balasan apa-pun.



Makassar, Juli 2012


Read More..

Semangat dari Hati







Alunan musik mengalun lembut di setiap sudut “Green Book Store”, salah satu cabang toko buku terbesar di Indonesia. Alunan-alunan indah tersebut telah membuat para pengunjung terlena untuk berlama-lama di dalamnya, menikmati kuartal demi kuartal, tone demi tone. Dari cctv terlihat jelas kegiatan-kegiatan para pengunjung, ada yang membaca sinopsis kemudian membelinya, ada juga yang hanya membaca kemudian meletakkannya kembali. Ada yang datang sendiri, berdua, ada juga yang beramai-ramai. Seperti itulah suasana yang setiap hari ditemui oleh asma selama setahun terakhir. Dan dari arah pintu masuk terlihat seorang wanita berkerudung biru muda menghampiri asma.

Assalaamu’alaikum Asma” sapa wanita berkerudung biru tersebut

Wanita berkerudung hijau itu pun spontan berbalik “Wa’alaikumussalam,, Rianty, kamu makin cantik dengan kerudung, makin bercahaya

Dengan wajah yang tersipu malu rianty menjawab “Makasih, ma… biasa aja kok sebenarnya… tapi jujur, aku ngerasa sangat nyaman sejak menggunakan kerudung, dan perasaan itu tidak bisa dibahasakan lewat kata-kata,,hehe…”

Alhamdulillaah, ty, aku bahagia banget, ngeliat kamu sudah berkerudung, ternyata S.E mampu mengantarkan kamu jadi muslimah sejati sekarang” sambil mendaratkan cubitan kecil di lengan sahabatnya

Rianty membalas cubitan kecil asma seraya berkata “asma, asma… bisa aja kamu,, aku jadi malu…hehe… owya,, gimana kabar skripsimu ?”

Dengan senyum manis asma menjawab “Alhamdulillaah, sekarang sudah ada di pembimbing 2 untuk di koreksi,, do’ain yahh, biar cepet nyusul kamu…” 

 Rianty pun menggenggam asma “Iya,, Semoga sahabatku yang paling baik ini lulus secepatnya,,aamiin… tapi soal nyusul aku,, jangan deh, ntar kamu pengangguran lagi kaya’ aku…hehe

Asma membalas dengan senyuman yang penuh tanya “Aamiin.. Lho, bukannya kemarin, kamu dah diterima di perusahaan swasta, yang industri di Kalimantan itu??

Iya ma, aku dah interview user sebulan yang lalu, tapi orang tuaku ga setuju kalau aku ditempatkan di lokasi perkebunan industri itu, jadi pada saat pemanggilan tes kesehatan, aku ga hadir” Rianty menunduk sedih

Melihat sahabatnya sedih, asma kini balik menggenggam “Ty,, aku ngerti perasaan kamu gimana, tapi restu orang tua itu memang penting, apalagi ini menyangkut masa depan kita, tapi aku ga bermaksud menggurui kamu ty, cuma sekedar pendapat aku aja

Ga kok,, aku justru salut sama kamu ma, kamu masih bisa menghormati orang tuaku seperti itu, padahal mereka sudah menolak kamu mati-matian saat aku ngajak kamu tinggal dirumah” Dalam genggaman eratnya, rianty semakin terlihat sedih

Dengan mata yang berkaca-kaca asma mencoba tetap tersenyum“Sudahlah,, lupakan saja tentang hal itu ty,, yang penting sekarang aku sudah punya tempat bernaung meskipun hanya kontrakan”

 “Maafin aku ya ma, aku ga bisa bantu banyak” Seraya merangkul sahabat sedari kecilnya tersebut

Masih dengan senyuman dan mata berkaca-kaca, asma balik merangkul “Ga apa-apa kok ty, do’aian aku aja, itu sudah lebih dari cukup”

Kali ini air mata rianty menetes satu persatu “Asma,, Kamu tuh tegar banget, aku ga tau kalau aku ngalamin yang kamu alami, sekarang aja aku dah ga sanggup dengan kehidupanku”

Asma melepas rangkulan lalu meletakkan telunjuknya di bibir sahabat sedari kecilnya tersebut “Sstt,, jangan ngomong gitu,, Segala sesuatu yang terjadi semua atas Izin Allah, apapun itu,, bahagia atau sedih kita mesti bersyukur, satu hal yang harus kita percaya bahwa Allah ga pernah ingkar janji, dan janji Allah telah pasti bahwa dibalik kesulitan selalu ada kemudahan”

Dengan wajah yang penuh air mata rianty kembali merangkul asma “Asma,, kamu memang sahabat terbaikku,, aku selalu ngerasa tenang setiap ngomong sama kamu,, makasih ya ma”

Husshh,, jangan bilang makasih ke aku, makasih ke Allah karena DIA telah mengirimkan teman secantik dan sebaik aku..heheh” Asma menggodai rianty sembari menghapus air mata sahabatnya tersebut

Dua sahabat itu saling mencubit pipi satu sama lain, senyuman sore itu seolah menyembunyikan seluruh kegetiran hidup asma. ia selalu menebarkan senyuman untuk sekelilingnya meski dalam hatinya begitu perih.  Kini selain melanjutkan kuliah, ia juga harus menghidupi 2 orang adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Dasar.

Sejak ayahnya dituduh melakukan korupsi setahun yang lalu, hidup asma berubah 180°, apalagi tak lama berselang, tepatnya sebulan kemudian ibunya juga meninggal dunia. Seluruh harta mereka disita, meski seluruh harta itu adalah hak mereka, namun ternyata skenario orang-orang yang menjebak ayahnya membuat semuanya menghilang begitu saja bak debu yang diterpa badai seketika.

Di awal ia mengalami semua itu, asma hampir hilang arah, namun Dua ayat dari surat Al-Insyirah1) yang telah terpatri lekat-lekat dalam memori, fikiran dan hatinya merupakan senjata pamungkas untuk memompa semangatnya yang saat itu benar-benar hampir habis tak bersisa. Dengan secuil harapan, asma mencoba bangkit, ia bertekad akan menyelesaikan kuliah, menghidupi adik-adiknya, juga berdiri di barisan paling depan untuk pembelaan ayahnya.

Meski getir melihat kenyataan hidupnya, asma tetap berjalan penuh semangat di atas rangkaian takdirnya, dan mengejar waktu batas Drop-out yang tersisa 2 semester lagi. Dengan modal buku-buku perpustakaan, buku-buku pinjaman dari tempatnya bekerja, juga informasi-informasi tambahan dari internet, serta bantuan pihak perusahaan, asma berpacu mengerjakan skripsinya.

***
Tiga bulan Kemudian…

Asmania Kazfya ; IPK 3.45 - Sangat Memuaskan
Naurah Amalia ; IPK 3.55 - Cum Laude
Jaswan Syaputra ; IPK 3.65 - Cum Laude

Suara yang telah berlalu dari beberapa jam yang lalu tersebut masih membahana dengan sangat jelas dalam gendang telinga asma, dengan air mata yang tak berhenti berurai, ia bercerita di depan pusara ibunya “Bu,, anak gadismu sekarang sudah sarjana, beberapa jam yang lalu anak cantikmu ini memakai toga, sejak dari yudisium nama anakmu ini sudah berubah menjadi Asmania Kazfya, S.E, bagus kan bu??,,” Setelah bercerita panjang lebar, dan membersihkan pemakaman ibunya dari rumput-rumput liar, asma terlihat bergegas pergi, ia naik angkutan umum lalu berhenti di depan gedung yang di jaga oleh orang-orang yang berseragam coklat. Meski dengan wajah yang sembab ia tetap melangkah dengan pasti, seperti memasuki tempat yang menjanjikan kebahagiaan, namun bagi asma langkah-langkah ini bukanlah kesedihan melainkan jembatan takdir yang akan berpenghujung pada kebahagiaan.

***
Wanita yang mengenakan kerudung hijau persis seperti yang dikenakan asma, terlihat merangkul asma “Asma, selamat ya atas wisuda kamu kemarin,, mmmhh,, tapi aku sedih, dalam fikiranmu sekarang pasti ingin pergi dari sini secepatnya, kan kamu sudah sarjana

Dengan tersenyum simpul asma menjawab “Makasih wid ucapannya,, tapi kamu kok ngomong gitu?,, Aku ga akan pernah meninggalkan tempat ini, bagiku, di sini bukan tempat bekerja lagi, melainkan rumah terindah yang pernah aku miliki, hidup bersama buku-buku, pelanggan, dan saudara-saudara seperti kalian semua adalah harta yang tak akan ternilai harganya

Dengan wajah yang sedikit khawatir widia berkata “Tapi kan di luar sana, kamu bisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik lagi

Asma pun kembali tersenyum simpul sembari menggenggam widiya “Mmmhh,, mungkin iya mungkin tidak,, kenapa aku bilang seperti itu, karena kehidupan yang lebih baik menurutku bukan dinilai dari banyaknya materi, tapi dari sini (dari ketenangan dan kenyamanan hati), mungkin memang benar aku akan mendapatkan materi yang jauh lebih melimpah tapi aku tidak akan pernah mendapatkan saudara seperti kalian semua, saudara yang siaga menemaniku saat aku sakit, menyisihkan sedikit penghasilan mereka hanya untuk uang sekolah adikku, memberikanku pinjaman buku untuk menyelesaikan skripsi, memberikanku kehidupan yang penuh cinta, sayang, senyuman disaat semua orang menghindari aku dan keluargaku. Widiya, aku benar-benar bersyukur, Allah telah mengirimkan kalian semua untuk hadir di hidupku, kalian adalah hadiah terindah yang diberikan oleh-NYA

Ohhh,,, Asma,, aku makin sayang sama kamu..” Widiya kembali merangkul asma dengan erat

Asma pun mengeratkan rangkulannya “Aku juga sayang kamu wid, sayang kalian semua

Keterangan :
1.      Fainna ma’al ’usri yusraa, inna ma’al ‘usri yusraa.
(Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. QS Al-Insyirah 5:6)

Read More..

Pengantin Kini







Mendung menggelayut, membuat senja tak nampak di pesona-nya. Aminah berjalan menyusuri lorong-lorong kecil hingga akhirnya terhenti di sebuah rumah kecil di sudut jalan. Ia tergopoh memutar kunci pintu, yang terkadang terbuka sendiri meski tak memasukkan mata kuncinya. Rumah yang biasa di sebut gubuk oleh kalangan menengah ke atas itu merupakan satu-satunya peninggalan bapak-nya, dan menjadi hal yang paling berharga dalam hidup aminah, selain mamak yang kian lama kian membungkuk.

***
Mak, biar minah yang membereskan, mamak istirahat saja” Minah memunguti potongan-potongan kayu tersisa, yang telah dipakai memasak oleh mamaknya

Kamu saja yang istirahat nak, baru pulang masa’ iya membereskan lagi” Sambil tertatih mamak narsih menyimpan termos

Ndak apa-lah mak, ini sudah kewajiban minah, mak harus banyak istirahat, apalagi mamak belum sembuh betul” Minah berujar seraya memapah mamaknya ke dipan

Dengan cekatan minah membereskan, menyapu abu sisa pembakaran di tungku juga mencuci perabotan yang terpakai. Tidak lama minah membereskan, karena memang perabotan kotor cuma wajan dan beberapa piring saja. Usai membereskan, minah beranjak ke sumur di belakang rumah, mengangkut air lalu mengisi gumbang1), setelah gumbang penuh barulah ia mengambil sarung dan mandi di sana.

Sekilas tak ada yang terlihat istimewa dari wanita berusia 38 tahun tersebut. Tubuh kurus dan kulit hitam-nya lah yang menonjol, membuat ia terlihat lebih tua dari umurnya. Meski baju dan rok yang ia kenakan selalu bersih, namun tetap saja terlihat kalau baju itu seharusnya tak layak digunakan lagi –baju yang warna-nya sudah sangat pudar  di tambah lagi beberapa tambalan di sana sini. Meski seperti itu aminah tak pernah malu dengan tampilan-nya.



***
Usai sholat subuh, aminah keluar rumah dengan penampilan seperti biasa, dengan baju lengan panjang dan rok panjang lusuh, ia berjalan menuju Yayasan Aisyah --sekolah dasar milik swasta yang didirikan di depan kompleks perumahan elite.

Menjadi bagian dari petugas kebersihan di yayasan tersebut merupakan pekerjaan tambahan yang sudah ia tekuni dalam setahun terakhir. Biasanya usai bekerja di sana barulah ia bergegas ke rumah majikannya, salah satu warga di kawasan elite.

Di sepanjang jalan, suara-suara bisik tetangga yang juga mulai bergegas ke pasar terdengar.

Ehh, tukang sapu SD kaya lewat tuh

Mana, mana ? ohh, si minah, bukan cuma tukang sapu tapi dia juga pembantu di rumah orang kaya

 Ahh, kalian semua ketinggalan, yang sekarang tuh ini –minah si perawan yang belum menikah-menikah juga, kasihan… hahaha

Ketiga ibu-ibu itu tergelak usai memberikan komentar-komentar versi mereka masing-masing. Aminah yang terus melangkah hanya mampu menelan ludah, mendengar seringai mereka. Entah apa yang membuat mereka begitu hobi menjadikan minah sebagai bahan olokan, padahal setiap berpapasan, aminah tak pernah tak menyemburatkan senyum dan memberi salam, belum lagi selama hidup bertetangga aminah juga keluarganya tak pernah sedikitpun mengganggu kehidupan mereka. Mereka hanya sopan bila izin mengambil air di sumur.

Berselang menit kemudian, langkah minah mulai membelok memasuki kawasan kompleks yang biasa ia lalui sebagai jalan pintas menuju Yayasan Aisyah, namun belum jauh dari tikungan, terdengar sapaan dari ibu-ibu lain

Pagi minah, mau berangkat ke kantor yah ? coba punya suami, pasti ada yang antar” ujar bu cahya seraya tersenyum sinis

Minah membalas dengan senyum getir. Ekspresi yang sama setiap harinya ketika melewati rumah bernuansa hijau tersebut, dari sekian ibu-ibu yang lain ibu cahya termasuk salah satu ibu-ibu yang paling senang menungguinya lewat lalu menyapanya dengan sapaan yang sama. Bukan senang, sengaja lebih tepatnya.

***
Senja kembali menapak kaki langit, langkah-langkah minah pun mulai menjejak menyusuri jalan yang sama. Tikungan kompleks, juga lorong-lorong kecil sepertinya telah betul-betul mengenali langkah wanita berperawakan tinggi kurus tersebut. Ya, hanya bagian-bagian tak bernyawa itu-lah yang selalu berdamai dengan kehidupan minah, memberikan utas harapan untuk mencari rezeki-Nya lalu kembali pulang.

Nak, bu titin tadi datang kemari katanya malam nanti ada acara mappenre’ balanca2) di rumahnya, kamu kesana ya bantu-bantu” ujar mamak narsih di sela batuknya

Iya mak, habis isya baru minah kesana” Minah menjawab seraya merebahkan tubuhnya di dipan

Batuk mak narsih kian gelegak “ Coba mamak tidak sakit, mamak yang akan ke sana

Ndak usah mak, biar minah yang ke sana, mamak banyak-banyak istirahat saja biar cepat sembuh” Tukas minah seraya memijit tengkuk mamaknya

***
Dari jauh, sayup-sayup terdengar tawa renyah dan obrolan orang-orang yang ada di sana. Aminah pun mempercepat langkahnya menuju rumah panggung di jalan seberang.

Sesampainya di sana, aminah membantu mengelap piring lalu kemudian mengisinya dengan penganan atau kue-kue. Dengan cermat aminah memperbaiki tatanan kue bolu kukus di atas piring, namun dalam asyik tiba-tiba saja ada yang mengambil piring tersebut disertai dengan teriakan dan hentak-kan

Kamu ndak usah di sini, nanti acara-nya batal lagi gara-gara perawan tua yang menata, mending cuci piring saja sana, kamu kan memang pembantu

Bu titin yang melihat anak-nya membentak seketika menegur “Arfah, kamu ini apa-apaan sih, minah datang membantu kita, jangan kasar seperti itu” bu titin lalu mendekati minah “minah maafkan arfah ya nak, jangan dimasukkan di hati

Minah hanya mengangguk, dengan mata berkaca-kaca, ia beranjak bergegas ke sumur tempat orang-orang mencuci piring. Tiba di sumur, ia sedikit lega melihat yang ada di sana hanya bu rahmah dan bu aida, setidaknya kedua ibu itu tidak terlalu sering mengatainya

Eh minah, kenapa baru muncul, baru pulang kerja ?” Tanya bu rahmah seketika

Minah tersenyum lalu berujar “Bukan bu, tadi masakin mamak dulu baru ke sini

Bu Rahmah menganggukkan kepala “Ohh…

Eh, nah, apa kamu ndak capek jadi pembantu?” Seringai bu Aida

Minah kembali tersenyum “Ndak bu, minah malah sangat senang, majikan minah sangat baik

Bu Aida lagi-lagi bertanya “ eh,kenapa kamu ndak minta tolong majikanmu cariin kamu jodoh?

Jodoh di tangan Allah bu, kalau sudah waktunya pasti di pertemukan juga” Minah berujar seraya menarik tali dari dalam sumur
Minah, minah, kapan waktunya ? kamu itu sudah kepala 3 hampir 4 malah, jadi bukan nunggu lagi, harusnya kamu bergerak cepat mencari” Tukas bu Aida lengkap

Minah mengangkat wajahnya “ Minah, percaya sama Allah bu,  Allah sudah mengatur semuanya

Bu Aida lagi-lagi mencecar “Ahh, itu semua gara-gara mamak bapak kamu yang menolak lamaran Nasir waktu itu, pake alasan kamu mau lanjut SMA, eh ujung-ujungnya kamu berhenti di tengah jalan gara-gara ndak ada biaya pas bapakmu mati, sekolah ndak selesai, jodoh juga ndak dapat

Iya min, itu bahaya lho, apalagi orang jaman dulu tuh bilang ‘kalau sudah ada yang melamar terus di tolak, ndak akan ada lagi yang datang melamar ” Bu Rahmah menggidik

Aminah kembali berkaca-kaca, ia menuangkan air di ember lalu berlari. Pulang. Namun belum sempat  menyeberang, masih depan pagar bu titin, aminah hampir saja di tabrak oleh pengendara yang baru membelokkan kendaraan roda duanya, ia-pun berteriak histeris.

Dan tidak lama setelah histeria minah membahana, Arfah berlari mendekat

Maaf puang3), puang ndak apa-apa ?Arfah menatap cemas pada pengendara motor

Alhamdulillaah tidak apa-apa” Jawab lelaki berjaket hitam perawakan tinggi tersebut

Setelah memastikan keadaan pengendara baik-baik saja barulah Arfah menatap minah, alih-alih bertanya yang sama, ia malah membentak “hee, dasar perawan tua, cepat pergi dari sini, kamu benar-benar bawa sial

***
Saya terima nikahnya Aminah binti Arif dengan…..

Bagaimana saksi ? Sah ?

Suara-suara lain berebut menjawab “Sahhhh

Bulir-bulir bening pun tak tertahankan lagi, aminah tak henti menyeka sudut matanya, ia masih tak percaya, yang terjadi hari ini seolah mimpi. Insiden nyaris ditabrak sebulan yang lalu, tak pernah disangka-nya menjadi jalan pertemuan dengan jodoh-nya. Lelaki berbalut jaket hitam saat itu, merupakan paman dari calon suami Arfah-anak bu titin, dia adalah duda yang ditinggal mati istrinya 2 tahun yang lalu, juga guru di salah satu Madrasah Tsanawiyah, serta seorang pengelola sekaligus pemilik panti asuhan di ibu kota kabupaten.

Kini, dalam balutan pakaian adat bugis, Aminah tersenyum bahagia dalam isak-nya.


End

Makassar, Agustus 2012



Ket :
1)      Gumbang                    : Tempat penyimpanan air.
2)      Mappenre’ balanca      : Penyerahan  uang belanja pernikahan (penyerahan berupa uang
berdasarkan nominal yang telah disepakati oleh kedua belah pihak).
3)      Puang                          : Panggilan hormat orang bugis.





Read More..

From VLP To Friends

Blog Indonesia

blog-indonesia.com

VLP Chats

Hitstats

Indonesia Blogger

Blogger Indo